Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menghapus pengoperasian bus antar jemput Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun, hingga Senin (25/1/2016) sore, bus tersebut masih beroperasi. Meskipun jam kedatangan diundur satu jam yaitu pukul 17.00.
Pantauan Warta Kota, sekira pukul 16.00, ratusan PNS mulai memadati halte bus Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.
Mereka berkerumun menunggu kedatangan bus. Meskipun, sudah mengetahui, bahwa bus akan datang satu jam lebih sore.
Sekira pukul 16.55, beberapa bus-bus antar jemput PNS berdatangan.
Bus-bus itu berwarna kuning-oranye bertuliskan Enjoy Jakarta. Para pegawai mengantri dengan tertib untuk masuk ke dalam bus.
Namun, dengan keputusan Ahok, para pegawai mengaku pasrah. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pegawai, Mira (43).
Ia mengatakan, mau tidak mau menyetujui keputusan Ahok untuk menghapus bus tersebut.
"Mau gimana lagi. Saya kan cuma pegawai. Kalau bus pegawai dihapus, saya terpaksa ngangkot.
Meski rumah saya di Pasarrebo," katanya ditemui saat menunggu bus jemputan tersebut.
Menurut Mira, jika harus mengangkot, ia akan memakan waktu lebih lama untuk pergi ke Balai Kota maupun pulang ke rumahnya.
"Biasanya cuma 1,5 jam. Tapi kalau ngangkot pasti lebih lama dan repot. Karena harus naik turun angkot," katanya.
Hal senada dikatakan oleh, Suyanti (55), ia lebih memikirkan kondisi PNS yang usianya sudah tua dan yang sedang mengandung.
Pasalnya, dengan angkutan umum, maka akan lebih merepotkannya.
"Kasihan yang sudah tua, ya seperti saya ini. Mau pulang ke Cengkareng, harus berdesak-desakan dengan penumpang. Apalagi kan banyak juga PNS yang sedang hamil. Kalau harus naik angkot riskan. Tapi ini sudah keputusan Pak Gubernur, ya saya setuju aja," katanya.(tribun)
Namun, hingga Senin (25/1/2016) sore, bus tersebut masih beroperasi. Meskipun jam kedatangan diundur satu jam yaitu pukul 17.00.
Pantauan Warta Kota, sekira pukul 16.00, ratusan PNS mulai memadati halte bus Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.
Mereka berkerumun menunggu kedatangan bus. Meskipun, sudah mengetahui, bahwa bus akan datang satu jam lebih sore.
Sekira pukul 16.55, beberapa bus-bus antar jemput PNS berdatangan.
Bus-bus itu berwarna kuning-oranye bertuliskan Enjoy Jakarta. Para pegawai mengantri dengan tertib untuk masuk ke dalam bus.
Namun, dengan keputusan Ahok, para pegawai mengaku pasrah. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pegawai, Mira (43).
Ia mengatakan, mau tidak mau menyetujui keputusan Ahok untuk menghapus bus tersebut.
"Mau gimana lagi. Saya kan cuma pegawai. Kalau bus pegawai dihapus, saya terpaksa ngangkot.
Meski rumah saya di Pasarrebo," katanya ditemui saat menunggu bus jemputan tersebut.
Menurut Mira, jika harus mengangkot, ia akan memakan waktu lebih lama untuk pergi ke Balai Kota maupun pulang ke rumahnya.
"Biasanya cuma 1,5 jam. Tapi kalau ngangkot pasti lebih lama dan repot. Karena harus naik turun angkot," katanya.
Hal senada dikatakan oleh, Suyanti (55), ia lebih memikirkan kondisi PNS yang usianya sudah tua dan yang sedang mengandung.
Pasalnya, dengan angkutan umum, maka akan lebih merepotkannya.
"Kasihan yang sudah tua, ya seperti saya ini. Mau pulang ke Cengkareng, harus berdesak-desakan dengan penumpang. Apalagi kan banyak juga PNS yang sedang hamil. Kalau harus naik angkot riskan. Tapi ini sudah keputusan Pak Gubernur, ya saya setuju aja," katanya.(tribun)
Tag :
Warta Daerah
