Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi kemunduran Arab yang tercermin dari KTT Nouakchott Mauritania yang disebut dengan “KTT Harapan”, yang digelar sejak hari Senin (25/7) lalu di ibukota Mauritania.
Dalam pernyataannya, Rabu (27/7) malam, Hamas menyatakan bahwa KTT Arab di Nouakchott tidak dihadiri dua pertiga pemimpin dan petinggi negara-negara Arab. Sementara pertemuan hanya disingkat dari dua hari menjadi sehari saja yang diakhiri dengan dikeluarkannya pernyataan yang sama sekali tidak memenuhi kepentingan rakyat Palestina dan bangsa Arab.
Hamas menegaskan bahwa isu Palestina, pembebasan Palestina dan pembersihan tempat-tempat suci dari penjajah akan tetap menjadi isu sentral umat dan KTT apapun tidak akan sukses melanggarnya atau mengabaikannya.
Gerakan Hamas juga menegaskan bahwa KTT ini harus mendefinisikan entitas Zionis sebagai teroris utama di kawasan dan perlawanan Palestina adalah perlawanan sah yang harus didukung dan berdiri bersamanya, bukan justru mencampur adukan antara perlawanan dan teroris.
Hamas mengatakan, “Memberikan payung bagi inisiatif politik yang memihak total kepada penjajah adalah perkara yang tertolak. Tidak ada insiatif Prancis, tidak juga normalisasi dengan penjajah Zionis. Setiap solusi terhadap isu Palestina harus melalui perlawanan untuk menyapu bersih penjajah dan membersihkan tempat-tempat suci serta untuk mendapatkan semua hak tanpa memberikan konsesi dan tunduk.”
Hamas menyatakan bahwa blokade dan agresi penjajah Zionis absen dari pembahasan di KTT. “Seakan darah rakyat Palestina dan penderitaan mereka tidak ada artinya sama sekali,” tegas Hamas.
Hamas menjelaskan bahwasanya tidak seorangpun dari peserta KTT diminta untuk membebaskan blokade atau melawan agresi atau mengendalikan serangan-serangan Zionis ke tempat-tempat suci.
Disebutkan dalam pernyataan penutupan, KTT Noakchott menyambut baik inisiatif Prancis untuk mengkompromikan isu Palestina dan mengungkapkan komitmennya untuk berpegang teguh pada inisiatif politik Arab yang diluncurkan pada tahun 2002 meskipun pihak penjajah Zionis terus menolaknya. (ip)
Dalam pernyataannya, Rabu (27/7) malam, Hamas menyatakan bahwa KTT Arab di Nouakchott tidak dihadiri dua pertiga pemimpin dan petinggi negara-negara Arab. Sementara pertemuan hanya disingkat dari dua hari menjadi sehari saja yang diakhiri dengan dikeluarkannya pernyataan yang sama sekali tidak memenuhi kepentingan rakyat Palestina dan bangsa Arab.
Hamas menegaskan bahwa isu Palestina, pembebasan Palestina dan pembersihan tempat-tempat suci dari penjajah akan tetap menjadi isu sentral umat dan KTT apapun tidak akan sukses melanggarnya atau mengabaikannya.
Gerakan Hamas juga menegaskan bahwa KTT ini harus mendefinisikan entitas Zionis sebagai teroris utama di kawasan dan perlawanan Palestina adalah perlawanan sah yang harus didukung dan berdiri bersamanya, bukan justru mencampur adukan antara perlawanan dan teroris.
Hamas mengatakan, “Memberikan payung bagi inisiatif politik yang memihak total kepada penjajah adalah perkara yang tertolak. Tidak ada insiatif Prancis, tidak juga normalisasi dengan penjajah Zionis. Setiap solusi terhadap isu Palestina harus melalui perlawanan untuk menyapu bersih penjajah dan membersihkan tempat-tempat suci serta untuk mendapatkan semua hak tanpa memberikan konsesi dan tunduk.”
Hamas menyatakan bahwa blokade dan agresi penjajah Zionis absen dari pembahasan di KTT. “Seakan darah rakyat Palestina dan penderitaan mereka tidak ada artinya sama sekali,” tegas Hamas.
Hamas menjelaskan bahwasanya tidak seorangpun dari peserta KTT diminta untuk membebaskan blokade atau melawan agresi atau mengendalikan serangan-serangan Zionis ke tempat-tempat suci.
Disebutkan dalam pernyataan penutupan, KTT Noakchott menyambut baik inisiatif Prancis untuk mengkompromikan isu Palestina dan mengungkapkan komitmennya untuk berpegang teguh pada inisiatif politik Arab yang diluncurkan pada tahun 2002 meskipun pihak penjajah Zionis terus menolaknya. (ip)
Tag :
palestina
